Instrument

Minggu, 01 September 2013

Masa Silam

Kalaupun semua kisah dulu tidak pernah terjadi lagi, ketika aku bertemu bayangmu di penghujung jalan, pastilah aku terus menatapnya sampai bayang itu hilang terbawa arus jalan. Semakin sakit ketika semakin banyak terhitung langkah kakimu yang menjauh dariku. Sangat bodoh saat berharap kau akan menoleh untuk sesaat. Tidak akan terjadi karena kamu tidak akan kembali berbalik kebelakang dan melangkah mendekat. Hanya berani melihat dari kejauhan. Saat dengar kabarmu baik-baik saja walaupun tidak secara langsung, tetap saja hati ini senang. Padahal luka dan airmata mengiringinya. Pergilah jika kau mau, tapi aku tetap disini dan tak akan mengejarmu sambil menangis dan memohon kau kembali. Karena seharusnya kau tidak pergi ke arah yang salah. Benarkah kau lelaki yang ku kenal hatinya? Yang ku tau sekarang kau jauh dari pandangan mata. Maka teori berkata "aku merasakan sebuah kerinduan", darimana asalnya? dari hati yang bicara kepada hati yang tak tahu entah dimana. Lalu pada akhirnya mimpi itu datang mendekat dengan pasti, menegaskan bahwa kisah-kisah semu masih terangkai. Saat terbangun, akupun menangis dan tersadar, sampai begini dalamkah rasa itu? dalam tidur lelap pun kau datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar