Aku cukup mengenal hatimu, aku belajar mengerti semuanya. Tapi bisakah kau pahami sedikit, bahwa mengerti yang sebelumnya tidak ku mengerti itu sulit. Sampai kapanpun akan aku tunggu jawabanmu, tentang kenapa rasa ini masih belum cukup untukmu. Meskipun pendustaan itu tetap terjadi, hingga benar aku tidak menyadari. Rasa cinta yang kurasakan bukanlah sekedar saja, namun apa mau dikata, sudah suratan tertulis di garis tangan. Haruskah aku mengemis cinta untuk hilangkan duka?. Kalaulah malam dapat bercerita, aku malu mendengarnya. Aku tak dapat tidur, walau sudah terpejam mata ini. Setiap umat tau, Tuhan tidak akan menciptakan apa-apa yang tidak ada manfaatnya di dunia ini, begitupun air mata. Jadi, bolehlah aku menangis untuk memanfaatkan pemberian Tuhan, meskipun di saat hatiku sakit menggilai cinta yang tak kau ketahui. Kalau kau bertanya, apa yang sedang aku fikirkan saat ini. Bercerminlah, maka kau akan temukan jawabannya. Tak pernah habis ku bercerita, pada malam-malam yang keadaannya tega biarkan aku sendiri. Tak pernah berhenti ku bertanya, pada pagi cerah yang biarkan burung-burung tetap bernyanyi meskipun aku bersedih. Tak pernah diam ku berkata-kata tentangmu, pada langit senja yang siap berganti menjadi gelap. Lalu apa hasilnya? aku hanya bisa tersenyum berandai-andai, sambil menyalahkan diriku, yang selalu berdusta berhenti memikirkanmu. Yang selalu siap tertegun melamun habiskan waktu mengharapkan bayanganmu. Salam rindu dari mata yang mencari-cari senyuman terindah bagai tak terpandang seperti dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar