Instrument

Minggu, 07 Juli 2013

Kerinduanku

Semakin lamaaa jarak kita semakin terasa. Aku menjauh darimu dan kau tidak peduli akan kejauhan itu. Sekarang aku sendiri, diam dalam keheningan. Seperti akan aku yang merindukan bibirmu sebagai telaga madu manis di sudut senyummu. Andai aku bisa seperti darah yang selalu mengalir di nadimu, dan kau pun tak akan bisa hidup tanpaku. Aku termenung disekap dinginnya malam, hanya memikirkan ketidakpastian. Berharap tentangku terlintas di sudut hatimu, walau hanya sekejap seperti angin.
Kenapa aku tetap merindukanmu walau kamu tak punya rasa yang sama?. Masalahnya karena sulit memaksa hati untuk berhenti memikirkanmu. Aku mencoba menerobos renunganku untuk sampai menyentuh masa lalu agar aku dapat mengenang kembali senyuman itu yang dulu sangat mudah aku dapatkan. Jika kau tanya padaku tentang apa yang ku benci saat ini, itu adalah merindukanmu, sebab rindu tetaplah luka. Dan jika kau bertanya padaku tentang hal yang dapat menyembuhkan luka ini adalah dirimu hadir di hadapanku.
Kini aku tenggelam dalam sepi, tersudut dalam gelapnya hidup, terdesak bersama permainan kerinduan hati. Sampai saat dimana aku memandangmu yang sedang bersamanya Aku tidak berniat ingin menghancurkan hari indahmu, maka ku putuskan memandangmu hanya dari kejauhan. Terjawab semua kini tentang kerinduanku bahwa kamu tidak pernah merindukanku. Cukup 5 detik kusimpulkan tentang rasa ini "Terima kasih atas kekecewaan yang engkau berikan, karena senada dengan itu hidupku berpetualang bersama air mata".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar