Seperti semua tahu bahwa bumi selalu berputar dan pasti akan berhenti ketika Tuhan menghendakinya. Dan waktu yang berhasil membawaku ke kedewasaan. Pada saat inilah aku mengenal sebuah kata yang dimana setiap manusia tidak akan pernah mengerti apa maksudnya dan bagaimana jalan ceritanya, ialah CINTA.
Ketika suatu malam dimana kita sedang tertawa bersama, tiba-tiba kau bercerita tentang seseorang yang seakan membuatmu kagum karena keindahan yang ia punya. Sungguh bibirku tersenyum manis, tapi hatiku berdegup begitu cepat. Seperti tidak bisa ku terima semua kabar itu. Dan di saat itulah aku mengerti bahwaku sudah jatuh cinta padamu. Sampai dimana saat kita duduk berdua di bawah langit terangnya sinar bulan dan ribuan bintang. Ku harap itu adalah hal terindah untuk kita, karena kita hanya berdua. Tapi tidak, kau malah memulai malam dengan cerita panjang tentang dirinya.
Aku bingung, kenapa semua yang terukir indah menjadi semu, aku tidak mengerti akan semuanya. Terasa bagai berdiri di tengah taman sandiwara, bermain peran bersama patung dengan memakai topeng senyum palsu. Rotasi tetap terjadi sampai pagi pun tiba. Aku terbangun dari tidurku, tapi aku tidak merasakan kehangatan pagi yang sebeulumnya selalu aku rasakan.
Dan mungkin aku telah sampai di titik kepedihan, akhirnya aku mengeluarkan pertanyaan yang menyatakan hatiku sudah terdesak dengan perasaan ini. "Kau tersenyum?, ya engkau tersenyum dengan manis karena aku juga tersenyum, meskipun dalam kepedihan. Apa kamu tahu itu?, tidak akan, karena kamu sedang tersenyum". Keadaannya waktu itu, aku hanya ingin menyendiri, aku ingin tenang. Tapi ternyata aku tidak bisa, malah menangis dalam kediamanku. Hatiku mulai berbisik sebuah kalimat atas pernyataan dari kesimpulan akhir perasan saat itu, dalam waktu 5 detik terucap, "Terlinang air mata atas semua jalan alur fikiranmu".
Ketika suatu malam dimana kita sedang tertawa bersama, tiba-tiba kau bercerita tentang seseorang yang seakan membuatmu kagum karena keindahan yang ia punya. Sungguh bibirku tersenyum manis, tapi hatiku berdegup begitu cepat. Seperti tidak bisa ku terima semua kabar itu. Dan di saat itulah aku mengerti bahwaku sudah jatuh cinta padamu. Sampai dimana saat kita duduk berdua di bawah langit terangnya sinar bulan dan ribuan bintang. Ku harap itu adalah hal terindah untuk kita, karena kita hanya berdua. Tapi tidak, kau malah memulai malam dengan cerita panjang tentang dirinya.
Aku bingung, kenapa semua yang terukir indah menjadi semu, aku tidak mengerti akan semuanya. Terasa bagai berdiri di tengah taman sandiwara, bermain peran bersama patung dengan memakai topeng senyum palsu. Rotasi tetap terjadi sampai pagi pun tiba. Aku terbangun dari tidurku, tapi aku tidak merasakan kehangatan pagi yang sebeulumnya selalu aku rasakan.
Dan mungkin aku telah sampai di titik kepedihan, akhirnya aku mengeluarkan pertanyaan yang menyatakan hatiku sudah terdesak dengan perasaan ini. "Kau tersenyum?, ya engkau tersenyum dengan manis karena aku juga tersenyum, meskipun dalam kepedihan. Apa kamu tahu itu?, tidak akan, karena kamu sedang tersenyum". Keadaannya waktu itu, aku hanya ingin menyendiri, aku ingin tenang. Tapi ternyata aku tidak bisa, malah menangis dalam kediamanku. Hatiku mulai berbisik sebuah kalimat atas pernyataan dari kesimpulan akhir perasan saat itu, dalam waktu 5 detik terucap, "Terlinang air mata atas semua jalan alur fikiranmu".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar