Bukan bintang, tapi planet. Bertahan sendirian di atas gelap awan, tetap berusaha bersinar semampunya. Ditemani Galaksi setelah langit, yang terjun dari lapisan terluar bumi, bukan bima sakti melainkan perangkat andromeda pantulkan cahayanya. Satelit setia tak nampak dari bumi, hilang beriringan dengan sang gerhana. Bergeser sepersekian jam lamanya tutupi kebahagian cahaya yang bersinar. Orbit tetap berputar, Merkurius menuntut kehadirannya yang dekat dengan Matahari. Venus pun berkata, "akulah dewi cinta dari rakyat mitologi romawi". Si merah diam tak memiliki keindahan lainnya, tapi pada dasarnya ada unsur kehidupan melangkah bersamanya. Yupiter menegaskan milyaran gas menyelubungi dirinya hingga badai besar abadi jadi miliknya. Lingkaran cincin indah tetap bersama Saturnus, berputar mengelilingi garis tegak lurus Matahari dan Bumi. Raksasa es meredupkan sinarnya perlahan, namun ia lah dewa langit orang-orang yunani kuno. Tapi perhitungan matematika berhasil temukan neptunus sang dewa laut di kehidupan romawi kuno, zona khatulistiwa yang lebar berotasi lebih lambat dari rotasi medan magnetnya. Dan si kecil Pluto yang melangkah memanjang tumpang tindih dengan jalur Neptunus itu pun menghilang entah kemana. Susunan rapi terlihat lebih indah tidak saling mendahului ataupun bertabrakan. Mahakarya Tuhan dengan segala Kebesarannya ciptakan Dimensi Angkasa Luar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar