Instrument

Senin, 15 September 2014

Bukan Rumahmu

Banyak hal yang harus ku pelajari. Kadang berucap ku mau dan akan pergi suatu hari, sebelum hatiku mulai terbakar dan tersayat. Tidakkah kau tau? dingin, angin dan hujan sudah datang dan pergi, tapi sangat berat saat semua tiada arti. Aku telah temukan arah yang sesungguhnya, tapi sayangnya kau tak pernah percaya akan arah itu. Tidakkah kau mau pergi ke sana bersamaku?. Jika kau pergi jauh, akankah kau mengajakku bersamamu?. Pagi yang begitu dingin, tak ada yang bisa dikatakan. Tentang sesuatu yang tertangkap di fikiranku. Dan fajar telah menyingsing, bersama semua yang perlahan hilang satu persatu dari hidupku. Dan aku berusaha ada di sana saat kau membuka mata. Janganlah kau pergi, katakan apapun yang ingin kau katakan. Katakan bahwa kau kan tinggal di sini kini dan selamanya. Untuk saat ini aku butuh banyak waktu, untuk membuat suatu hal yang salah menjadi benar. Sialnya keadaan dan permainan ini adalah hal yang tak bisa ku mainkan. Kau dan aku, padahal kita tau cara menunjukkan perasaan masing-masing. Dan aku melihat ke arahmu, tapi kau tak memperhatikanku, iya kan?. Aku tau kau tak pernah mendengarku, karena seakan kau telah mengerti semua tentangku. Dan sejak aku terjaga, hingga aku kembali tertidur, aku berusaha selalu di sisimu. Kau coba hentikan tingkahku, tapi aku sabar menunggu hanya untuk melihat apakah kau cukup peduli. Apakah dulu kau ingin aku berubah? Aku telah berubah untuk selamanya. Dan ku ingin kau tau, bahwa kau kan selalu dapatkan maumu. Aku setia membunuh waktu, agar kau tau aku begitu membutuhkanmu. Kaulah yang ku lihat meski kau tak melihatku. Kaulah yang ku dengar dengan keras dan jelas. Kaulah yang cerita hidupnya selalu ku baca meski kau tak meminta. Walau ku tau hatiku takkan pernah jadi rumahmu, di mana tempatmu kembali setelah pergi entah kemana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar