Ada kalimat bilang gini, "Surround yourself with people you trust to make you better, not drag you down, and keep at it". Tapi anehnya masih banyak yang kadang ngerasa ada di sisi yang serba salah, kaya makan buah simalakama. Maksudnya yaa, pergi salah, ga juga salah. Kalo pergi ngerasa sepi, kalo ga udah ngerasa ga nyaman juga. Kadang sahabat juga gitu, seakan selalu ada aja. Padahal kan maunya a best friend isn't someone who's just always there for you. It's someone who understands you a bit more than you understand yourself. Tapi kenyataan ngajarin kita hal yang beda sama mimpi. Kadang hidup lucu juga si, mangkanya banyak orang yang pantes diajak ketawa bareng atau yang kita ketawain bareng-bareng. Yang tadinya kenal deket, main bareng, becandaan bareng, bisa kaya orang ga kenal, jangankan negor, nengok aja males. Tapi buat sahabat yang bener-bener sahabat thank you for standing by my side when times get hard, thank you for making me laugh when I didn't even want to smile. Buat temen cewek, jangan kebanyakan baca novel tentang cinta, nanti jadi pinter ngedrama, entar apa-apa maunya jadi yang utama, tiada lebih indah selain sadar diri. Udah percaya aja, apa yang agama kita gariskan tentang cinta dan caranya itu jauh lebih indah dari semua cerita cinta yang direkayasa manusia. Cari teman hidup itu bukan perihal tampang, harta, apalagi gelar, tapi tentang seseorang yang mau duduk bersamamu sampai rambut memutih dan raga tak mampu lagi berbuat banyak. Sendiri, selalu butuh waktu untuk sendiri kalo lagi ga tau harus kaya gimana lagi sama keadaan yang udah ga bisa dijelasin. I'm not mad or depressed or antisocial. I just need to not talk to anyone for a while, and that's okey. Buat yang nyari arti kesetiaan, atau yang udah ngerasa kesepian, tengok ke atas deh, the only one who will never abandon you is Allah. Biar mereka datang, biar mereka pergi, gausah munafik, pura-pura jadi teman baik, padahal hatinya jahat, belajar jujur minimal sama diri sendiri. Kalo mau jadi orang baik yaa harus beneran baik. You have exactly one life in which to do everything you'll ever do. Act accordingly.
semua cerita kehidupan yang berawal dari pemilihan senyawa anak manusia yang menjalani kisah sampai akhir nafas perizinan kehidupan.
Instrument
Rabu, 24 September 2014
Senin, 15 September 2014
Bukan Rumahmu
Banyak hal yang harus ku pelajari. Kadang berucap ku mau dan akan pergi suatu hari, sebelum hatiku mulai terbakar dan tersayat. Tidakkah kau tau? dingin, angin dan hujan sudah datang dan pergi, tapi sangat berat saat semua tiada arti. Aku telah temukan arah yang sesungguhnya, tapi sayangnya kau tak pernah percaya akan arah itu. Tidakkah kau mau pergi ke sana bersamaku?. Jika kau pergi jauh, akankah kau mengajakku bersamamu?. Pagi yang begitu dingin, tak ada yang bisa dikatakan. Tentang sesuatu yang tertangkap di fikiranku. Dan fajar telah menyingsing, bersama semua yang perlahan hilang satu persatu dari hidupku. Dan aku berusaha ada di sana saat kau membuka mata. Janganlah kau pergi, katakan apapun yang ingin kau katakan. Katakan bahwa kau kan tinggal di sini kini dan selamanya. Untuk saat ini aku butuh banyak waktu, untuk membuat suatu hal yang salah menjadi benar. Sialnya keadaan dan permainan ini adalah hal yang tak bisa ku mainkan. Kau dan aku, padahal kita tau cara menunjukkan perasaan masing-masing. Dan aku melihat ke arahmu, tapi kau tak memperhatikanku, iya kan?. Aku tau kau tak pernah mendengarku, karena seakan kau telah mengerti semua tentangku. Dan sejak aku terjaga, hingga aku kembali tertidur, aku berusaha selalu di sisimu. Kau coba hentikan tingkahku, tapi aku sabar menunggu hanya untuk melihat apakah kau cukup peduli. Apakah dulu kau ingin aku berubah? Aku telah berubah untuk selamanya. Dan ku ingin kau tau, bahwa kau kan selalu dapatkan maumu. Aku setia membunuh waktu, agar kau tau aku begitu membutuhkanmu. Kaulah yang ku lihat meski kau tak melihatku. Kaulah yang ku dengar dengan keras dan jelas. Kaulah yang cerita hidupnya selalu ku baca meski kau tak meminta. Walau ku tau hatiku takkan pernah jadi rumahmu, di mana tempatmu kembali setelah pergi entah kemana.
Rabu, 10 September 2014
Power Rangers
Ucapan yaa cuman ucapan, pada kenyataannya yang bilang bakal setia menemani juga sanggup pergi dengan mudahnya. Bukan hak kita juga si buat ngelarang, emang kita siapanya dia?!. Tapi kenapa yaa banyak orang yang gampang matahin komitmen omongannya sendiri? kenapa yaa banyak yang ga bisa belajar ngehargain arti kehadiran orang lain. Kaya temen, dulu pas baru kenal si asik-asik aja, sampe saking deketnya lama-lama jadi sahabat, bahkan udah dianggap kaya sodara sendiri. Kemana-mana bareng mulu, kalo ada yang kaga ikut pasti ada yang nanya "si itu mana?". Seru dah pokoknya, kerjaannya ketawaaaaa mulu. Eh tapi itu dulu, pas kita ngerasa nyaman di dalem ruang lingkup yang isinya itu ituuuuu aja. Sekarang mah udah beda, waktu itu bilangnya ga barengan sehari aja kangen, sekarang bilang kangennya tiap malem cuman buat gebetannya, atau pacarnya, atau halusinasinya, atau apalah itu. Jamannya lagi bareng, kalo ada yang jatuh cinta yaa pada cerita. Main nasehatin sesama gitu, padahal mah belum tentu yang nasehatin hatinya lebih sehat dari yang dinasehatin. Tapi sekarang udah ga ada tuh yang kaya gitu-gitu. Kalo kita yang ngechat atau bbm balesnya lamaaaaa, itu juga kalo dibales haha. Biasanya si kalo balesnya lama dia lagi chating atau bbman sama yang lebih asik dari kita, cieeeee kita udah ga asik buat dia. Yaa ga abis pikir aja si, pertemanan yang udah kita bangun lama, runtuh gitu aja cuman gara-gara dateng orang baru yang ga penting-penting amat. Yaudahlah yaa, mungkin sekarang masanya di mana kita asik sama dunia kita sendiri, karena keadaan juga udah terlanjur ngajarin kita hal itu. Mereka udah berubah, kaya Power Rangers, padahal power rangers aja berubahnya sebentar doang, terus bakal balik lagi kaya semula, mereka kapan yaa balik kaya semula???. Tapi yang gue tau, Orang jahat yaa tetep dinilai jahat, meskipun jadi orang baik nantinya. Orang baik yaa tetep dipandang baik, meskipun berubah jahat nantinya. Dan sahabat? yaa tetep sahabat, meskipun kita udah bukan siapa-siapa dimatanya.
Langganan:
Komentar (Atom)