Saat hari-hari terasa dingin, dan perasaan terombang-ambing tak berdaya, duduk di bawah terang tapi sendiri. Saat semua pergi, dan dia yang kita elu-elukan adalah yang terburuk, tak ada tempat untuk sembunyi. Hari masih sangat panjang, dan selalu bertanya-tanya pada diri sendiri, sudahkan kulakukan semua yang bisa kulakukan???, dan tak tahu, haruskah mencoba lebih keras lagi???. Suara kehidupanku memang tak akan mampu menjangkau kehidupanmu, tapi bolehkah kita mencoba saling bicara, barangkali kita dapat mengusir kesepian dan tidak merasa jemu. Aku ingin buang kebenaran, aku ingin menaungimu tapi bersama si jahat di dalam hati, karena aku bukan malaikat yang kau harapkan. Saat kau merasakan nyamannya, tataplah mata yang hanya di hadapanmu, disitulah kau kan temukan jawaban. Tapi jangan terlalu dekat, di dalamnya sangat gelap gulita, banyak genangan tertahan menunggu ditumpahkan ketika langkah-langkah itu semakin menjauh. Getarannya tak beraturan, akibat kekacauan yang kau buat. Meski mereka bilang ini semua salahmu, aku jawab semua tergantung nasib, bersandar di telingaku pernyataan yang aku harus meninggalkanmu. Aku pergi karena tak mendengar kata-kata yang teramat kau butuhkan dan tak ada tempat yang harus ku miliki. Setelah langit, setelah matahari, masih ada harapan yang bersinar terang. Hanya ada dua cara, aku ubah masalah itu yang berarti tak mungkin atau aku ubah diri sendiri untuk hadapi masalah itu. Biar sesuatu itu menggantung, agar kita sangat ingin menggapainya. Nyatanya kita tidak mungkin menunggu angin untuk ikut mendorong kapal yang kita tumpangi agar sampai di tujuan. Tapi kita harus buka layar kapal, dan berusaha sabar menunggu waktu yang tepat, agar arah benar yang kita harapkan, datang dengan sendirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar