Instrument

Jumat, 28 Maret 2014

Baik Yang Hebat

Ini kisahnya, ini adalah ketakutan yang tidak ku percaya sebelumnya. Tentang mereka, mereka yang berkata sambil memeluk dan bersuara sendu, seakan meminta tak ingin semua pergi dan berakhir. Seakan memohon dengan lemah dalam kekuatan yang masih mereka punya. Waktu tidak bisa bersembunyi dan dia berhak bercerita tentang fakta. Faktanya apa sekarang? siapa aku? dia? dia? dia? dan semuanya?. Cerita cinta itu, berhasil membuat mereka memfokuskan cinta pada cinta yang tak sadar dari siapa dulu itu tercipta. Baik pada mereka yang tak baik pada akhirnya, itu bukan kesalahan, itu petunjuk. Karena yang aku tau agamaku tidak ingin siapapun jadi makhluk jahat, apapun alasannya. Jika menjadi jahat membuatmu senang, cobalah, jangan berbuat jahat pada apa yang tidak bisa kau bunuh. Pasti doa doa baik itu datang yang memohon dan meminta pada Tuhan-Nya agar kau menjadi orang baik. Pertikaian terjadi, posesifku mengajak hatiku menjauhi orang-orang yang dulunya baik dan menjaga perasaanku. Tapi aku bukan anak kecil, yang mudah kalah dengan hawa nafsu. Pertikaian apapun dalam diriku, separah apapun itu aku percaya, bahwa semuanya diserta pilihan. Siapa aku selanjutnya itu tergantung dengan apa yang aku pilih sekarang, dan aku maupun dari setiap kalian berhak memilih hal yang benar. Aku lebih senang berlari sambil bernyanyi dan tersenyum pada orang-orang yang tersenyum kepadaku di jalan, entah siapa mereka. Daripada tersenyum pada mereka yang aku bukan siapa-siapa untuk mereka. Ingat, jangan terlalu sering berjalan sambil mendongak ke atas, nanti kamu lupa kalau kaki kamu masih menapak di bawah. Jadi orang hebat itu baik, tapi lebih hebat jika terus berusaha jadi orang baik.

Selasa, 04 Maret 2014

Lirih

Sunyiku dalam kesendirian malam, tertegun tak mampu pejamkan mata, menjemput mimpi bersanding untuk tertidur. Apa yang aku fikirkan? terus menerus dengan sendirinya mengganggu pandangan agar tak seperti biasanya. Sayatan detik waktu menuju pagi, melamun tiada arti bagi siapapun. Berserah dalam malam yang Tuhan-ku kisahkan untukku, bertanya tanya pada kebodohan yang juga tak tau dimana jawaban itu bersembunyi. Membiarkanku berlama-lama mencari hingga lelah. Tersesat dimana aku? sampai jeritan lirih tak bisa didengar. Menuju fajar yang dinginnya keringkan air mata, yaa semalam aku menangis. Merendahkan derajat ketegaran hati atas cinta tanpa alasan. Karena setinggi apapun standar kamu tentang calon pasangan, akan kalah ketika kamu jatuh cinta tanpa alasan. Tentang siapa? dia, yang hatiku tidak pernah jelas untuk singgah sementaranya atau tempat tinggal yang ia kunci untuknya sendiri, bahkan mungkin tidak ada yang berhak masuk kecuali dia. Kejelasan itu belum benar adanya, keresahan menyertai senyuman pagi. Tubuh tergoyang angin menantikan yang tak merasa dinanti. Hai kamu, selamat pagi, merasakah kesepianmu ku harap aku ada? aku selalu siap untuk itu. Tak terkecuali lilin harapan menyala temaniku selagi kau dalam perjalanan menuju hatiku.