Instrument

Minggu, 27 Oktober 2013

Hitam Pelangiku

Kebahagiaan yang sempurna tercermin dari orang yang sederhana tapi dapat memperlakukanmu dengan istimewa. Berusaha menganggap semua yang terasa kejam menjadi sesuatu yang baik, berusaha menganggap semua yang tidak adil akan indah pada waktunya, hanya itu yang bisa saya lakukan agar semua terihat baik-baik saja. Belajar tenang karena saya pernah menyesal dari terburu-buru, Berhenti untuk marah karena saya sering melihat penyesalan karena amarah. Dan biarkan alunan nada indah mengalir dalam lamunan. Aku tidak  pernah takut rasa sayang kamu buat aku berkurang, karena aku tau kamu tidak pernah sayang sama aku. Aku tidak pernah berharap semua yang sudah aku lewati aku minta untuk diulangi, karena aku tau tidak pernah ada kenangan akan aku buat kamu. Aku juga tidak pernah berharap kamu bisa ada buat aku kapanpun, karena yang aku tau, aku dan kamu hanya berdiri di batas ini. Tapi cinta adalah yang berani pergi dan ditinggal pergi. Hidup tidak menjamin kita selalu bahagia. Seperti burung-burung senja itu, yang mendadak jatuh tak kembali ke sarangnya. Tapi tidak denganku, mungkin sayap-sayapku pernah patah karenamu, dan saat itu waktu sedang mengajarkanku arti kesakitan. Mungkin cintamu tidak membebaskanku,sampai aku tidak bisa cari cinta yang lainnya. Sungguh cintamu tak akan tinggal bersamaku, bahkan walau ku tunggu sampai hayatku dan setelah kematian. Padahal aku yakin kau adalah yang rela masih terbangun untuk melihatku tertidur. Tapi cerita itu berbeda, kau hitamkan pelangiku. Cinta ini tidak akan pernah selesai tanpamu, hingga tangan Tuhan menyatukan kita lagi di alam yang berbeda. Salam dari yang memanggilmu dengan sebutan yang berbeda, agar tetap beda dari yang memanggilmu sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar