Embun itu mulai jatuh dari ujung daun, yang terbenam pun terbit dengan anggun, sinarnya terpancar dengan bebas. Oh Tuhan, tiada yang salah dari apa yang Engkau ciptakan. Setapak terang menghampar panjang jauh ke depan, apa itu harapan?. Berjalan lah kaki ini di atasnya, mencari-cari arti akhir yang bahagia. Mensyukuri nikmat-Nya dengan cara lain, merindukan kebahagiaan yang dititipkan datang, iya benar, dialah kamu. Memuja senyum pada cinta yang tak biasa, kehangatan itu terasa beda, saat dekat padanya di suatu ruang. Biar kesederhanaan itu terjaga, biar aku jaga senyumnya tetap menyala, meskipun aku adalah kayu bakarnya. Bercerita pada sungai, yang airnya membendung dan meluap di ujung mata. Hitam, awan hitam itu datang dan semua gelap. Gerimis perlahan hadir, tetes airnya bagai puisi, yang kecewa ia datang tega mencaci maki. Tetesnya semakin deras, membuat yang lain berlari tak mau di basahi. Salahkah hujan turun? padahal bulirnya rela diterbangkan lalu dijatuhkan dengan kerasnya. Biar, biar cahaya itu membias kumpulkan ribuan warna dan lengkungan yang indah. Biar mereka yang berlari dan sembunyi, keluar memuji hadirnya pelangi. Kalau lah ada duka di antara kenangan, mungkin dia pertanyaan atas jawaban kabahagiaan. Tuhan Maha Mengetahui apa yang kita ucap disetiap doa, sekalipun kita sebut namanya, dia yang kita tunggu. Semua seperti seharusnya, terangkah, gelapkah, tiada masalah. Masalahnya adalah rindu ini tetap mengeja namamu dengan lembutnya. Walau kau tak selalu ada di dalam terang atau gelapnya langkah ini.