Mungkin kamu bukan ciptaan-Nya yang berasal dari unsur cahaya, bukan seperti malaikat makhluk Tuhan yang sempurna. Kadang kamu seperti mereka yang terlihat biasa, seperti mereka yang tiada aku rasa. Mungkin kamu yang membuat aku benci, yang membuat aku marah. Tapi kehadiranmu bagai setitik cahaya dalam gelap, tempat aku berlari entah sampai di mana ujungnya. Dan kamu yang berhasil membuka tali pengikat hati yang tadinya aku ikat hanya untuk aku sendiri. Kadang aku salah mengertimu, aku terlalu menganggapmu lebih. Saat pergi menjadi hal biasa untukmu, aku merasa kehilangan. Saat kau mengacuhkanku, aku merasa tidak diperdulikan oleh siapapun. Saat kau duduk di sampingku, mungkin itu salah satu cerita indahku. Kala aku merasakan hawa hangat tak seperti sebelumnya, adalah waktu kau iringi langkahku. Sejenak berdiri di bawah langit, menunggu kunang-kunang menari di antara ilalang. Sampai saat hujan turun, di sudut kedua mata dengan begitu derasnya. Siapa yang tega turunkan hujan itu? ialah keindahan yang tak terpandang seperti dulu. Kadang aku bertanya, kenapa aku harus menangisi hal yang sama berulang-ulang, sedangkan aku tidak bisa tertawa dengan lelucon yang sama berulang-ulang. Karena hal itu begitu menyakitiku. Dongeng bilang, selalu ada pangeran setelah ratu bercerita, namun sayang aku tidak tinggal di negeri khayalan, itu hanya dongeng. Aku terlalu lelah mempertahankan ini, tapi terlalu indah semua untuk dilupakan. Entah apa cerita yang bisa menjelaskan semuanya, saat aku berharap dapat memelukmu sampai Tuhan memeluk kita. Dan ku tunggu sampai kau mencintai rasa yang sama.